Oleh: Melvin Simanjuntak | September 15, 2009

AGENDA SINODE GODANG: MENUJU JAMAN BARU?

Pdt. Melvin M. Simanjuntak

Pengantar

Pada tanggal 13-19 September 2004 akan diadakan Sinode Godang HKBP di Seminarium Sipoholon. HKBP telah memasuki transisi semangat rekonsialiasi dan menyatakan diri sebagai gereja yang terbuka, dialogis, dan inklusif. Pernyataan terbuka, dialogis, dan inklusif merupakan visi HKBP dalam menghadapi tantangan di jaman reformasi dewasa ini berdasarkan hasil keputusan Sinode Godang HKBP ditempat yang sama pada tanggal 30 September-4 Oktober 2002. Keputusan dalam Sinode Godang terdahulu menetapkan pemberlakuan Aturan dan Peraturan (AP) HKBP, yang dinyatakan mulai berlaku terhitung tanggal 1 Januari 2004. Dengan demikian Sinode Godang yang akan datang itu berjalan berdasarkan AP baru, setelah kurang lebih 4 tahun memakai 2 AP (1982 dan 1994) sekaligus untuk menadopsi kepentingan kedua belah pihak. Itu artinya Sinode Godang didahului oleh adanya Sinode Distrik. Lantas apa artinya semua itu? Karena itulah tulisan ini mencoba membaca realitas terdahulu dan kini dengan tetap menoleh pada AP baru HKBP.

Orientasi Arah dan Strategi HKBP

Tidak semua warga jemaat mendapat AP Baru HKBP bahkan ada juga pendeta yang tidak mendapatkan AP tersebut dan otomatis menyulitkan warga jemaat untuk memahami langkah-langkah strategis penatalayanan HKBP. Sulitnya AP baru HKBP tidak dapat diketahui penyebabnya, yang jelas bagi kita adalah HKBP dengan visi dan misi baru mau melangkah untuk memasuki jaman baru. Mengapa disebut jaman baru? Pertama visi dan misi HKBP dapat dikatakan baru. Kedua, HKBP telah melakukan restrukturalisasi dengan kembali ke dalam tripanji pelayanan gereja yakni koinonia (persekutuan), diakonia (pelayanan), dan marturia (kesaksian). Semua departemen dari pusat sampai tingkat huria harus mengacu ke sana sehingga mereka berfusi. Orietasi HKBP tentang strategi penatalayanan dapat dilihat dalam AP baru. Dalam AP baru ditulis visi sebagai “HKBP berkembang menjadi gereja yang inklusif, dialogis, dan terbuka, serta mampu dan bertenaga mengembangkan kehidupan yang bermutu di dalam kasih Tuhan Yesus Kristus, bersama-sama dengan semua orang di dalam masyarakat global, terutama masyarakat Kristen, demi kemuliaan Allah Bapa yang mahakuasa”. Sedang misi ditulis, ”HKBP berusaha meningkatkan mutu segenap warga masyarakat, terutama warga HKBP, melalui pelayanan-pelayanan gereja yang bermutu agar mampu melaksanakan amanat Tuhan Yesus dalam segenap perilaku kehidupan pribadi, kehidupan keluarga, maupun kehidupan bersama segenap masyarakat manusia di tingkat lokal dan nasional, di tingkat regional dan global dalam menghadapi tantangan abad 21”. Pemakaian istilah “terbuka”, “inklusif”, dan “dialogis” dalam visi tersebut merupakan sesuatu yang baru dan perlu mendapat perhatian. Visi tersebut akan terlihat dalam serangkaan tema dalam Sinode Godang. Misal tema Sinode Godang tahun 2002 adalah “Menjadi kesembuhan bagi bangsa-bangsa” (Wahyu 22:2) dan dalam Sinode Godang tahun 2004 mengambil tema, “TUHAN Allah memberangkatkan dengan damai dan sukacita” (Yesaya 55:12). Dengan itu istilah “terbuka” dapat ditafsirkan bahwa gereja HKBP membuka pintu bagi semua bangsa tanpa diskriminasi untuk menjadi pengikut Kristus dan semakin meninggalkan corak identitas kentalnya yang terkait dengan adat Batak Toba. Itu artinya HKBP sudah terbuka dan dapat menerima semua manusia lintas budaya, padahal tumpuan kekuatan HKBP justru terletak pada identitas khas yang di jaman globalisasi justru sangat diperlukan.

Pandangan terbuka demikian harus segera mendapat penjelasan dan menjadi program penatalayanan penting HKBP untuk dapat melayani para penderita ketergantungan narkoba, penderita HIV AIDS, para korban penggusuran, melakukan pembelaan kepada kaum tani dan nelayan, dan semua korban dari proses pembangunan dan dampak globalisasi sesuai rujukan istilah “global” dalam visi dan misi HKBP. Sebab visi dan misi HKBP tersebut berarti menempatkan posisi gereja HKBP dalam kancah globalisasi. Pertarungan globalisasi saat ini bukan hanya mengambil titik berat pada mutu atau kualitas sebagaimana disebut dalam misi HKBP atau semangat kompetitif, namun juga bertarung dalam hegemoni global. Pemikiran demikian akan membawa kita kepada suatu pertanyaan logis dan relevan, “Seberapa besar pengaruh HKBP dalam konteks lokal (skop propinsi Sumatera Utara), nasional (skop negara Indonesia), dan global (skop dunia internasional)? Pertanyaan ini sangat relevan untuk memikirkan posisi peranan dan pengaruh yang tepat bagi HKBP dalam ke tiga tingkatan di atas. Faktor penentu kekuatan dominan HKBP justru terletak pada kekayaan budaya Batak Toba sebagai aset terbuka HKBP untuk melakukan hegemoni dunia. Karena itu setelah penetapan AP baru HKBP seharusnya diikuti dengan tindakan formulasi lanjutan yang memuat tentang orientasi langkah, dan strategi HKBP menghadapi tantangan dalam abad ke 21. Bagian ini tentu menjadi tanggung jawab bersama, antara pimpinan dan warga HKBP untuk memberikan kontribusi peranan dan pengaruh bagaimana yang bisa dimainkan gereja HKBP. Nah, tentu perlu kajian-kajian strategis dalam wujud seminar- seminar, pembentukan tim pakar, dan perancangan program-program realitis dalam menerjemahkan AP baru tersebut. Pertanyaan bagi kita adalah apa makna “dialogis” dan “inklusif”? Apakah dialogis dapat diartikan bahwa HKBP siap membuka dialog dan bersedia menjadi fasilitasi dialog bila diperlukan warga Batak Toba atau sukubangsa lain? Ataukah pengartian dialogis dimaksud sebagai penyeimbangan aspirasi warga gereja dan pimpinan dalam hal-hal yang menyinggung tentang teologi praktis. Bila hal itu dimaksud maka warga perlu memberi masukan-masukan kepada pimpinan gereja tentang realitas kebutuhan dan harapan masing-masing warga HKBP. Bagian ini kemudian dirumuskan sehingga menghasilkan penatalayanan yang dialogis. Penatalayanan dialogis menjadi kekuatan penting mengimbangi pola inklusif. Tapi kita juga belum paham maksud dari istilah “inklusif”, apakah itu terkait dengan sikap gereja berdasar teologi inklusif untuk tidak mengambil bentuk pluralistik? Kesenjangan pemikiran dari AP baru kepada realitas penatalayanan inilah menjadi pemikiran penting kita untuk mengadakan suatu lokakarya dengan topik “Implementasi Visi dan Misi HKBP Dalam Kepelbagaian” dengan mengikutsertakan komponen HKBP pada tanggal 7 Agustus 2004.

Tantangan HKBP: Dunia dan Jaman Baru

Dunia modern sebagai akselerasi kekuatan industrialisasi, kapitalisasi, dan rasionalitas telah mendorong kelahiran globalisasi. Ketiga kekuatan itu melihat faktor sekat berupa teritorial sebagai batas negara dan menjadi penghalang utama suatu tindakan ekonomi. Karena itu perlu suatu wadah yang disebut globalisasi. Globalisasi menentukan peranan dan pengaruh satu pihak terhadap pihak lain berdasar perdagangan dan teknologi informasi. Globalisasi tidak hanya menghilangkan sekat batas (borderness) dengan membentuk suatu “kampung dunia” (global village) walau bersandar pada prinsip persaingan sehat dan mutu unggulan, namun bisa menjadi ancaman berupa terjadinya “penjarahan global” (global pillage) terhadap sumber daya alam yang masih dimiliki negara-negara berkembang seperti Indonesia. Kasus-kasus illegal logging (penebangan hutan secara liar), impor sembako secara besar-besaran seperti kasus impor gula sekarang, sampai ke bentuk pinjaman hutang berjangka dapat dilihat sebagai wujud penjarahan global. Persaingan saat ini tidak hanya berdasarkan pada kekuatan rasionalitas, dalam arti kecerdikan dan kelihaian, namun harus juga didukung oleh perangkat infrastruktur seperti kekuatan modal uang dan kebijakan-kebijakan berupan aturan hukum yang jelas dan adil. Karena itu rasanya tidak logis bila ada pihak menyatakan persaingan sehat. Negara-negara maju telah memiliki itu sehingga tidak terjadi hal yang merugikan warganya, misal adanya subsidi bagi kalangan petani sedang di negara kita belum kuat rasa kepedulian baik secara kolektif maupun individu.

Perlindungan terhadap semua produk dalam negeri dan hak-hak warga negara menjadi sangat relevan untuk tetap mempertahankan identitas diri. Dampak globalisasi dapat merusak citra identitas diri tanpa terkecuali, termasuk warga gereja HKBP. Karena itu kajian terhadap dampak globalisasi sudah perlu mendapat perhatian HKBP untuk dapat mengambil langkah konstruktif dan strategis bagi warganya sebagai agenda penting pasca-sinode godang 2004 ini agar HKBP tetap terpelihara menjadi HKBP. Pencitraan kekuatan HKBP harus mulai dilakukan dengan serangkaian perlindungan, advokasi, penguatan rakyat desa, dan pembentukan jaringan kota-desa. Bagian ini akan sejalan dengan UU No 22 dan No 25 tahun 1999 tentang otonomi daerah. Citra gereja sebagai pengayom dan moral force sangat dibutuhkan warga arus bawah. Dalam era globalisasi, kekuatan pencitraan juga dibutuhkan agar gereja tetap terbuka bagi semua umat yang membutuhkan perlindungan baik secara sosial, budaya, maupun politik. Transisi internal HKBP sejak sinode rekonsiliasi tahun 1998 dengan tetap mengayomi seluruh warga gereja HKBP telah menyibukkan HKBP sehingga transisi dari masa silam dengan 2 AP yang dipakai kepada tiba-tiba muncul napas pembaharuan rasanya menjadi pergumulan aktual HKBP.

HKBP cukup konkret membaca situasi lokal, nasional dan global dengan merumuskannya menjadi visi, namun hendaknya visi dan misi itu dapat diejawantahkan ke dalam kenyataan penatalayanan gereja HKBP. Namun kita harus menyadari sungguh-sungguh bahwa AP baru HKBP memberi kekuatan baru dan membawa warga gereja menuju jaman baru. Dalam rangka memasuki jaman baru itulah warga dan pimpinan HKBP harus mempersiapkan menghadapi era perubahan dan persiapan menghadapi tantangan dari jaman ini, yakni dampak globalisasi. Tumpuan pelayanan pada tiap keluarga dan tiap individu warga HKBP merupakan titik sentral penguatan partisipasi warga, sebagaimana diisyaratkan dalam makna tema Sinode Godang tahun ini. “TUHAN Allah memberangkatkan dengan damai dan sukacita” memberi kekuatan unggulan sebagai berkat dan diharapkan warga HKBP mampu membawa serta menjadi berkat bagi orang lain. Makna ungkapan itu senada dengan ungkapan Tuhan Yesus yang selalu memberi amanat untuk pergi dan pergi. Misal dalam Matius 10:7, ”Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat”, juga dalam amanat agung di Markus 16:15, “Lalu Ia berkata kepada mereka: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk”. Corak pelayanan Tuhan Yesus adalah corak bekerja dan talenta bekerja dalam melayani DIA ada pada semua warga gereja, bukan dengan hanya berkata-kata. Selamat bersinode-godang HKBP.

Jakarta, 19 Juli 2004


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: