Oleh: Melvin Simanjuntak | Agustus 24, 2009

SUARA NABI POLITIK EKOLOGI

SUARA NABI POLITIK EKOLOGI1

Oleh : Pdt.Melvin M.Simanjuntak, STh, MSi


1.     Amanat Ekologis Tuhan

Ketika saya menerima surat untuk memberikan frestchrift dari Pdt. Manarias Sinaga, MTh berjudul “Kepemimpinan dan Masyarakat” terbetik di dalam pikiran saya untuk mencoba memberikan alternatif pemikiran sinkron dengan yang diberikan namun bisa bermakna eksoterik. Saya menawarkan judul pemikiran ini untuk mengundang perhatian saksama kalangan pendeta dan warga jemaat gereja yang mewarisi suara kenabian dengan lantang membawa pesan politik di kancah kemasyarakatan di tingkat lokal, nasional, dan global sebab gereja berada di antaranya. Perhatian saksama kita tentu adalah melaksanakan amanat Tuhan yang tertulis di dalam Kitab Kejadian 2:15 sebagai eksistensi manusia paling hakiki. Di dalam Kejadian 2:15 disabdakan,”TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu”. Firman TUHAN itu mengandung beberapa bangunan teologi yang sangat mendasar. Pertama Tuhan telah memberikan posisi adiluhung kepada manusia sebagai pekerja (employee) dan pemelihara (providensitor). Bekerja dan memelihara menjadi kodrat kedirian, identitas dasar manusia. Bagian ini titik  keseimbangan di dalam diri manusia dan mengandung perspektif teologis ekologis. Manusia bekerja di dalam Taman Eden harus juga peduli terhadap apa pun yang terdapat dan terjadi di dalam taman tersebut. Sikap desruptif akhirnya diambil manusia akibat egosentrisnya sehingga menciptakan ketidakseimbangan ekosistem yang diberikan Tuhan untuk dipelihara manusia. Sikap ini merupakan resiko ciptaan manusia belaka, bukan efek dari keberdosaan manusia.2 Beban moral ini sangat berat untuk dipikul umat manusia untuk kembali mengutuhkan ciptaan Tuhan.

Kedua adalah hak prerogatif Tuhan untuk mengambil dan menempatkan kodrat hakiki manusia untuk mendiami dunia ini, entah di Afrika, Eropa, Amerika, Australia, maupun Asia namun semua insan fertilitas tersebut harus memiliki rasa tanggung jawab untuk menyamankan dunia ini, bukan untuk membuatnya menjadi sarang “perebutan” dan konflik sehingga menjauh dari perdamaian yang diidam-idamkan umat manusia. ”And the world has be live as one” yang didendangkan The Beatles di lagu “Imagine” sebenarnya refleksi dari doa Tuhan Yesus di Yohanes 17 di mana perdamaian hanya kasat mata nikmat terdengar di atas sehelai kertas. Kecemasan eksplisit ditunjukkan Ben Anderson dengan menguak relung hati setiap insan untuk memperbincangkan tentang multikulturalisme, yang di dalamnya bisa dieksploitasi demi kepentingan trans-kultur untuk tujuan dominasi terhadap koloni-koloni dunia.3

2. Suara Kenabian Ekologi

    Ketika Tuhan Allah menciptakan langit dan bumi ternyata ada sesuatu aral sehingga ada ketidakseimbangan. Terkesan belum sempurna, kesengajaan Tuhan, atau memang ada kendala ketika permulaan penciptaan dilakukan Tuhan. Situasi chaos ini berada di dalam cakupan kairos Tuhan, bukan dalam kronos kalkulasi manusia manusia saat ini, namun amat menarik bahwa Tuhan rupanya menciptakan bumi berdasar sketsa dan rupa-Nya sendiri. Rupanya tidak menarik menurut Tuhan gambaran dari ciptaanNya bernama bumi sehingga membuatNya untuk membentuk kembali. Mungkin ada ketidakseimbangan dan ketidakteraturan yang terjadi sehingga dari observasi Roh Allah yang menginspeksi hasil ciptaan tersebut sangat jauh dari cakupan ekologis. “Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air” (Kej.1:2). Dalam Holy Bible terjemahan NIV dinyatakan,”Now the earth was formless and empty, darkness was over the surface of the deep, and the Spirit of God was hovering over the waters” (Gen.1,2). Banyak pandangan arkeologi justru melakukan kalkulasi kronologis dari penciptaan padahal Tuhan Allah sama sekali tidak mengukur dari percaturan waktu sehingga muncul temuan-temuan fosil berumur jutaan dan miliaran tahun. Lalu di dalam proses penciptaan tersebut Tuhan memperlengkapi dan menata kembali sistem astrologis dimaksud agar bisa bergerak secara mekanis, organis, dan teratur seperti pante rei di alur-alur sungai. Thomas Hobbes berpendapat senada malahan menyebut proses penciptaan tersebut sebagai “prosthetic Gods4. Menurut Hobbes penjelasan menarik tentang penciptaan justru diterangkan dengan elegan oleh Nabi Yesaya, ”Betapa kamu memutarbalikkan segala sesuatu! Apakah tanah liat dapat dianggap sama seperti tukang periuk, sehingga apa yang dibuat dapat berkata tentang yang membuatnya: “Bukan dia yang membuat aku”; dan apa yang dibentuk berkata tentang yang membentuknya: Ia tidak tahu apa-apa”? (Yes.29:16). Proses konfigurasi dan formulasi penciptaan dunia secara universal telah “ditukangi” Tuhan dengan baik dan apik, sebagaimana drasakan keteraturannya termasuk suplemen yang diperlukan dan diperhitungkan Tuhan sangat diperlukan manusia, yakni cahaya atau terang. Bayangkan jika dunia tidak ada cahaya atau terang, sudah pasti manusia akan disebut binatang gelap.

    Sebutan “tukang” kepada Tuhan oleh nabi Yesaya sangat ramah lingkungan, karena “tukang” biasa bekerja dengan perlengkapan memadai dan menghitung material yang diperlukan. Tuhan Yesus pun mendapat gelar sebagai anak “tukang kayu”. Terminologi Yunani “teknon” memiliki makna filosofi tersendiri5. Pertama pribadi teknon sudah pasti memiliki ketrampilan khusus sebagaimana halnya dengan istilah “teknokrat”, sangat berdekatan dengan pengertian teknologi. Kedua “tukang kayu” sangat mengekspresikan hubungan erat antara pribadi manusia dan manfaat ketersediaan sumber alam. Nabi Elia pun memakai simbol kapak dalam mengajari muridnya Elisa untuk memperlihatkan hubungan ekologis pribadi manusia dengan alamnya6. Berangkat dari suasana rumah yang sempit dan sesak sehingga ventilasi udara sangat kurang menyegarkan mendorong komunitas nabi untuk bekerja sama bagi pengumpulan kayu dan balok. Namun ketika pengumpulan kayu dilakukan justru terjadi keanehan, sebagaimana dinyatakan berikut, “Dan terjadilah, ketika seorang sedang menumbangkan sebatang pohon, jatuhlah mata kapaknya ke dalam air. Lalu berteriak-teriaklah ia : “Wahai tuanku! Itu barang pinjaman!” (2 Raja-raja 6:5). Keramaian dan kebisingan membuat manusia menjadi lengah dan ceroboh sehingga kapaknya pun terjatuh di sungai Yordan. Nabi sebagai mandataris Allah, ebed YHWH, memberi semacam legitimasi atau lisensi bagi penebang kayu agar hubungan ekologis tidak terganggu hanya karena making profit dan kelobaan manusia. Suara kenabian demikian sangat perlu untuk mengeliminasi pengrusakan lingkungan hidup dus membungkam kerakusan manusia.

    Di awal tahun 1980-an  mengemuka perdebatan hangat suara kenabian ekologis yang sampai sekarang belum tuntas mengenai penciptaan. Perdebatan terjadi antara kelompok yang membela habis teori Darwinisme dan teori Alkitabiah. Yang pertama sering disebut dengan “CREATIONIST”, sedangkan yang kedua “EVOLUTIONARY SCIENCES”. Para pakar sains yang mengimani Alkiabiah datang dari organisasi-organisasi bersifat kristiani misalnya dari Bryan College, Christian Heritage College, Liberty Baptist University. Persoalan tersebut sampai kepada tingkat pengadilan, sehingga hakim William R.Overton dalam catatan putusannya menyatakan 4 hal sangat penting dan sangat prinsipil.7 Pertama Alkitab ditulis dari Firman Tuhan sehingga kami percaya dapat memberi inspirasi kehidupan. Dengan demikian secara historis dan ilmiah benar di dalam seluruh tulisan yang dikandungnya. Kedua segala bentuk dan jenis mahluk termasuk manusia diciptakan langsung oleh tindakan Tuhan selama minggu penciptaan sebagaimana dikisahkan di dalam Kitab Kejadian. Perubahan secara biologis yang timbul sejak penciptaan merupakan penyempurnaan di dalam pengubahan jenis ciptaan. Ketiga air bah (the great flood) secara umum merupakan peristiwa historis, perluasan dunia di dalam efek dan tingkatannya. Keempat kami adalah suatu organisasi umat Kristen yang menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Menarik sekali putusan Overton dengan berdasar beberapa karakteristik esensial tentang sains, yakni pertama sains berpedoman pada hukum alam, kedua sains merupakan penjelasan atau pemaparan dengan mengacu pada hukum alam, ketiga sains merupakan cobaan berlandaskan dunia empiris (pengalaman semata), keempat simpulan sains bersifat tentatif sehingga tidak ada kata akhir, dan kelima sains bisa saja salah karena berlaku prinsip trial and error (coba dan salah).8 Perdebatan tersebut sangat hangat dibicarakan di dalam forum mailing list namun rasanya belum menjemaat di dalam percakapan-percakapan pastoral gereja, padahal penting bagi gereja untuk memberikan suara kenabian yang berkaitan dengan lingkungan hidup di mana gereja berdiri megah.

    3. Dunia Ekologi dan Ekologi Dunia

    Sepanjang pinggir danau Toba hampir semua penduduk lokal memanfaatkan sumber air itu untuk tujuan pribadi, misalnya mencuci pakaian, mandi, dan mencari ikan. Namun kalau diperhatikan saksama sungguh menyesakkan dada. Betapa tidak rasa kepemilikan sumber alam tersebut tidak seiring dengan upaya pemeliharaan, sehingga banyak sekali sampah dibuang ke danau tersebut. Substansi sangat dalam terbetik dari pemanfaatan sumber alam, yakni nikmat sekali memakai daripada memelihara. Proses natural yang terjadi setiap hari di pinggir danau Toba adalah kearifan lokal. Banyak deterjen masuk ke dalam danau, dan sisa-sisa bungkusnya menjadi penghias panorama keindahan danau Toba. Tidak ada pengelolaan sumber air itu bisa berkelanjutan sehingga mengeliminasi kerusakan akut terhadap kelangsungan hidup danau Toba. Misal ada ketentuan untuk kontrol pemanfaatan ikan, ada pengaturan untuk proses sanitasi bagi penduduk lokal, dan ada upaya hieginisasi di sepanjang danau Toba. Setidaknya sejumlah kabupaten secara khusus dapat memberikan kontribusi pemeliharaan danau Toba, yakni Kabupaten Samosir, Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Toba, Kabupaten Simalungun, dan Kabupaten Karo. Kelangkaan jenis ikan ihan Batak, jurung akibat tiadanya pengelolaan keberlanjutan sehingga pemanfaatan ikan secara maksimal dan majemen limbah secara baik tanpa keseimbangan ekosistem merupakan causa prima kelangkaan tersebut. Persoalan limbah perusahaan besar di kabupaten Toba membuktikan ketimpangan ekosistem dan secara teologis telah menafikan upaya pemeliharaan sebagaimana diamanatkan Tuhan di atas kepada manusia.

    Pembalakan hutan di Sumatera Utara telah menimbulkan kerusakan hebat di mana-mana, tidak hanya merusak panorama pandangan mata namun juga mengakibatkan banjir bandang tidak terbendung dan erosi serta tanah longsor. Efek dasyat tersebut harus menjadi pengalaman sangat berharga. Mungkin kalau danau itu bisa bicara dia akan mengatakan,”Ale Tuhan Debata, sesa ma dosanasida, ai dang diboto nasida na binahennasida i?” Adanya serangkaian aksi damai untuk menolak eksistensi kaum kapitalis yang bersikap desruptif ternyata kurang disikapi secara arif bijaksana. Mereka melulu mengatasnamakan pemberdayaan ekonomi rakyat padahal perekonomian rakyat tetap tidak berdaya. Berbeda halnya dengan peristiwa yang terjadi di India. Seorang pakar biodiversitas dan direktur Research Foundation for Science, Technology, and Ecology, New Delhi di India yang meraih hadiah Nobel di bidang Lingkungan Hidup bernama Vandana Shiva berhasil menunjukkan kekuatan rakyat semesta dengan mengerahkan para ibu agar tidak menebang hutan, padahal perusahaan yang telah ditunjuk pemerintah resmi mengantongi surat HPH (Hak Penguasaan Hutan).9 Sebab menurut keyakinan orang India bahwa pepohonan pada hakekatnya juga mahluk hidup sebagai ciptaan Tuhan yang bernyawa sehingga penebangan hutan sama dengan pembunuhan terhadap mahluk hidup dan itu pelanggaran berat terhadap hukum agama. Suatu teladan suara kenabian yang patut dicontoh masyarakat Batak yang mau konflik hanya karena kepentingan ekonomi segelintir orang.

    Kasus Indorayon yang sarat dengan berbagai vested interests, kepentingan sesaat yang sesat tidak juga dapat berdamai dengan alam. Walau kasus limbah Indorayon menelan korban harta benda dan nyawa, namun proses aksi penutupan rupanya tidak cukup kuat untuk tidak membuat Indorayon beroperasi kembali. Ternyata Indorayon amat lihai memanfaatkan kerentanan konflik di dalam budaya Batak, yang bisa dipecah-belah karena kepentingan ekonomi, sosial politik, dan kultur Batak Toba.10 Kasus limbah Indorayon berakhir dengan kemenangan kapitalis dengan tetap berjalannya industrialisasi yang katanya dapat memakmurkan rakyat? Mungkin orang Batak sudah kehilangan pencitraan tradisi yang diyakini. Harry Parkin sebagaimana juga dicatat A.A.Sitompul menyebutkan adanya tradisi budaya Batak untuk ekosistem kehutanan. “Ketika orang Batak dulu mencari dan mengumpulkan kapur barus, tak dapat tidak mereka memakai bahasa khusus, yaitu hata ni partondung11. Tradisi lain yang perlu mendapat kontemplatif masyarakat Batak adalah kisah mitos Tunggal Panaluan. Walau kisah itu sangat mistis namun sebenarnya sangat mengandung muatan ekologis teologis yang mengekspresikan hubungan harmonis mahluk hidup antara manusia, hewan, dengan tumbuhan. Hubungan mesra tersebut menjadi sangat terganggu akibat ketidakramahan manusia dan hewan itu sendiri untuk menjalin sinergitasnya. Artinya manusia dan hewan sama-sama memiliki karakteristik dan mentalitas “rakus”, mengenyangkan perutnya tanpa memikirkan keberlanjutan ekosistemnya. Kasus zat besi yang berbahaya di daerah Sulawesi disinyalir menimbulkan kerusakan pada anatomi tubuh dan gangguan pada kehidupan masyarakat akibat limbah pabrik Newmont sempat juga menyita perhatian para pencinta alam.

    Peneliti biologis Garret Hardin tahun 1968 menguak ketidakberesan regulasi pemanfaatan kekayaan laut dan atmosfir sehingga manusia menjadi rakus dan suka-sukanya saja sehingga terjadi tragedi yang dikenal “Tragedy of the Commons”.12 Persoalan merembet menjadi pertentangan antara hak individual (perseorangan) dan hak kebersamaan (komunitas) sehingga Hardin menyatakan dengan pasti bahwa tidak ada hak kepemilikan perseorangan jika menyangkut sumber atau kekayaan alam, melainkan menjadi hak kepemilikan kolektif atau komunitas.  Terminologi “Tragedy of The Commons” ditemukan Hardin dari pamplet kecil terkenal tahun 1833 yang dipakai peneliti matematika amatir bernama William Forster Lloyd (1794-1852), yang ternyata digunakan juga oleh filsuf ternama Whitehead. Menurut Hardin,”In a welfare state, how shall we deal with the family, the religion, the race, or the class (or indeed any distinguishable and cohesive group) that adopts over breeding as a policy to secure its own aggrandizement? To couple the concept of freedom to breed with the belief that everyone born has an equal right to the commons is to lock the world into a tragic course of action”.13 Hal serupa pernah terjadi di Amerika Serikat, tepatnya di negara bagian Texas akibat kerusakan hidrologik dan erosi tanah kering, sebagaimana diungkapkan Walter Firey dan Raymond Dasmann14.

    Pertanyaan Hardin sangat sederhana namun mengajak pemikiran pemerhati dan peminat ekologi tahu aturan main di dalam pemeliharaan lingkungan hidup. Bagaimana mungkin pengontrolan ketat bisa dilakukan terhadap keluarga, grup ras dan keagamaan, dan kelas-kelas masyarakat sebagai upaya pemeliharaan sebagai kebijakan yang nyaman mengingat 2 aspek yang saling berkorelasi. Pertama kebebasan individu yang sangat dihargai sehingga otomatis menyulitkan kontrol mengingat perkembangan populasi berada di lahan yang terbatas, ruang terbatas, dan perkembangan populasi tidak seiring peningkatan sistem kebijakan serta makanan. Kedua peningkatan populasi sudah pasti akan meningkatkan dampak polusi. Kepadatan penduduk akan menyulitkan kontrol terhadap implementasi dari kebijakan sistem. Pertambahan penduduk tentu mengurangi zat Oksigen dan meningkatkan pembakaran zat karbohidrat. Contoh di wilayah Tangerang terdapat ribuan pabrik dengan pekerja yang berjumlah ribuan juga. Bagaimana pemerintah dan pencinta lingkungan hidup dapat mengontrol keteraturan pembuangan limbah terhadap pabrik-pabrik tersebut? Apakah sistem yang dicanangkan Kementerian Lingkungan Hidup tentang Amdal dapat terjamin dan siapa yang bisa menjamin, mengingat sudah berlakunya UU Otonomi Daerah? Kedua hal yang diungkap Hardin sebenarnya baru 2 masalah besar tentang politik ekologi yang ramai dibicarakan, yang bermuara menjadi isu Global Warming.15 Ternyata kebijakan sistem tentang politik ekologi hingga kini masih saja belum bisa disepakat negara adidaya Amerika Serikat sebab dikuatirkan akan menimbulkan efek besar terhadap perekonomiannya sehingga Protocol Kyoto masih belum diratifikasi Konggres Amerika Serikat walau saat ini sudah mulai dikampanyekan kesadaran lingkungan hidup oleh Al Gore.

    Pada hakekatnya permasalahan lingkungan hidup yang mengancam kehidupan orang percaya dapat dianggap sebagai pergumulan serius bagi gereja sehingga kemegahan gereja yang berdiri semakin kokoh dan mengakar dalam masyarakat. Di dalam Konfesi HKBP tahun 1996 memasukkan suatu klausul yang menghubungkan dimensi kebudayaan dan lingkungan hidup, tidak terpisah karena dianggap sudah terintegrasi sebagai produksi tangan-tangan manusia. Dalam Konfesi HKBP 1996 pasal 5 terdapat 2 pokok pemikiran teologis yang sangat hakiki. Pertama “Allah menciptakan manusia dengan tempat tinggalnya dan tempatnya bekerja di dunia ini” (Kej.2:5-15) sebagai asal muasal sumber kehidupan. Kedua “karya Yesus Kristus adalah membebaskan manusia, segala ciptaan dan juga dunia ini (Kol.1:15-20; Roma 8:19-33)16. Kedua prinsip ekologis dalam kredo gereja HKBP sangat berharap terjadinya tingkat kesadaran tertinggi terhadap lingkungan hidupnya sehingga mampu bertanggung jawab.


    1 Tulisan ini merupakan refleksi teologis terhadap perkembangan pandangan-pandangan ekologis dan salah satu buah karya dari sejumlah tulisan yang sedang digarap dengan judul buku “Ratapan Pusuk Buhit” dengan kajian lebih komprehensif.

    2 Anthony Giddens menyebut sebagai “manufactured risks”, buah resiko perbuatan manusia itu sendiri.

    3 Benedict Anderson,”Imagined Communities: Komunitas-komunitas Terbayang”, Yogyakarta : Insist dan Pustaka Pelajar, 2002

    4 Lihat David Macauley,” Minding Nature:The Philosophers of Ecology ”,New York:Guilford Press,1996, halaman 25

    5 Teolog modern Marcus Borg dalam tulisannya Meet Jesus At the First Time mengeksplorasi tentang terminologi “teknon” yang digunakan untuk menyebut Yesus sebagai anak tukang kayu.

    6 Kajian Ihromi sangat menarik dalam memberi perspektif teologis yang bercorak ekologis. Lihat Martin L.Sinaga dan Pramudianto,” Pergulatan dan Kontekstualisasi Pemikiran Protestan Indonesia ”, Jakarta: STT Jakarta UPI Press, 1999

    7 Dicatat di dalam Michael Zimmerman,” Science, Nonscience, dan Nonsense ”, Baltimore: The Johns Hopkins University Press, 1995, hal. 20

    8 Zimmerman, ibid, hal. 21

    9 Vandana Shiva, “ Pembangunan Bangsa ”, Jakarta : Yayasan Obor, juga perhatikan wawancara David Barsamian dengan Vandana Shiva di bulan Desember 2002 yang dapat diakses di : http://www.thirdworldtraveler.com/Vandana_Shiva/Vandana_Shiva_page.html

    10 Kajian disertasi Victor Silaen dengan mengangkat aksi rakyat walau menelan korban nyawa tetap tidak bergeming dan tidak berdamai dengan alam. Lihat Victor Silaen,”Gerakan Sosial Baru: Perlawanan Komunitas Lokal Pada Kasus Indorayon di Toba Samosir ”, Yogyakarta: IRE Press, 2006. Selain Victor Silaen mega kasus limbah Indorayon juga banyak diutarakan para pemikir dan aktivis, misal George Junus Aditjondro,”Pola-Pola Gerakan Lingkungan ”, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003; juga J.Anto dan Benget Silitonga,”Menolak Menjadi Miskin: Gerakan Rakyat Porsea Melawan Konspirasi Gurita Indorayon”, Medan: Bakumsu, 2004

    11 Hata ni partondung mirip mantera dapat direaktualisasikan sebagai tradisi budaya Batak agar setiap orang Batak tidak main-main dengan hutan karena bisa membawa bencana yang dasyat. Sebagaimana dikutip A.A.Sitompul, “ Manusia dan Budaya “, Jakarta : BPK GM, 2000, hal.73. Tradisi budaya Batak dapat digunakan sebagai senjata ampuh untuk membatasi penebangan hutan oleh warganya sendiri.

    12 Lihat artikel Garret Hardin, “Tragedy of The Commons”, terbit di jurnal “Scence” tahun 1968, 162:1243-1248 pernah menjadi bahan perdebatan hangat ketika penulis studi lanjut di UNPAD; juga disinggung oleh  Lorraine Elliott, “The Global Politics of The Environment“, Hampshire: MacMillan, 1998, hal.10; perhatikan juga John W.Bennet, “Human Ecology as Human Behavior “, New Jersey: Transaction Publ., 1996, hal. 59, 355-356.

    13 Hardin, ibid, juga perhatikan tulisannya yang lain, Perspectives in Biology and Medicine 6, 1963, hal.366

    14 J.W.Bennet, op.cit, hal. 238

    15 Lihat Elliott, op. cit., perhatikan juga tulisan provokatif amat menarik disajikan Zimmerman, op.cit.

    16 Pengakuan Iman HKBP tahun 1996, Tarutung: Kantor Pusat HKBP, 2000, hal. 88


    Tinggalkan Balasan

    Please log in using one of these methods to post your comment:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    Kategori

    %d blogger menyukai ini: