Oleh: Melvin Simanjuntak | Agustus 24, 2009

ALKITAB DAN ILMU TAFSIR

ALKITAB DAN ILMU TAFSIR*

Oleh : Pdt.Melvin M.Simanjuntak, STh, MSi

  1. 1. PENGANTAR

Dalam pembelajaran kita terdahulu telah dijelaskan tentang pemahaman dasar ALKITAB, dan sekarang kita coba memahami mengenai Sejarah Alkitab dan Sejarah Tafsiran. Keduanya saling terkait dan berhubungan.Tak mungkin ada orang memahami Alkitab tanpa melakukan upaya Tafsiran. Karena itu di dalam teologi dikenal sebagai pembelajaran tersendiri mengenai Ilmu Tafsir atau sering disebut “HERMENEUTIK”. HERMENEUTIK adalah dasar hakiki bagi orang yang ingin menyampaikan khotbah. Jika seseorang berkhotbah namun dia tidak memakai dasar-dasar HERMENEUTIK maka yang disampaikannya adalah PIDATO (ORASI), bukan KHOTBAH.Dengan demikian kita bertanya apakah itu HERMENEUTIK?

Pertanyaan di atas rasanya juga menjadi sulit dijawab jika kita belum juga memahami tentang sejarah terjadinya ALKITAB; penulisannya,dari mana asalnya lalu apa perkembangan sejarah ALKITAB, hingga kepada KANONIKA yang ada ditangan kita masing-masing.Jika kita sudah memahami tentang sejarah terjadinya ALKITAB maka kita sudah bisa memasuki apa yang disebut HERMENEUTIK agar PENAFSIRAN kita tidak meleset atau dikatakan “salah tafsir”. Kalau sudah “salah tafsir” maka Firman Tuhan yang disampaikan menjadi “salah sasaran” dan berakhir jadi “salah kaprah”. Akhirnya semua jadi runyam, dan pelik. Tujuan kita memahami kedua sisi tersebut adalah paham dan tahu sebagai calon penatua sehigga mampu memberi jawaban yang pas dan relevan kepada jemaat, sebagai bekal keberimanan yang kuat, dan perlengkapan rohani.

  1. 2. SEJARAH ALKITAB

Dalam ALKITAB terdapat 66 kitab yang dihimpun dan dikumpul menjadi satu secara bertahap melalui kurang lebih 1500 tahun. Para peenulis ALKITAB pun berbeda-beda, dan ditulis dalam berbagai bahasa, namun dalam Konfesi Gereja HKBP pasal 4 tahun 1951 dinyatakan,”Tiada pernah ada nubuat-nubuat yang jadi dengan kehendak manusia, melainkan datangnya daripada Allah, diucapkan oleh orang yang digerakkan oleh Rohu’lkudus” (baca 1 Petr.1:21). Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, dan mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik (2 Tim.3:16-17). Dalam kaitan itu ditekankan 2 hal penting bahwa pertama hanya kekuatan Roh Kudus bisa menyatukan gereja (baca Yoh.1:14), kedua semua pelayan dan warga jemaat siap sedia memberitakan Firman Tuhan atau Kabar Baik kepada semua mahluk (Mat.28:19-20).Semua kitab yang terhimpun menjadi satu itu merupakan hasil dari KANONIKA, proses penghimpunan dan pengesahan ALKITAB menjadi satu kesatuan.

Pada abad ke 3 SM sebanyak 70 para ahli ALKITAB menerjemahkan himpunan kitab-kitab yang tersebar ke dalam bahasa Yunani, jadi SEPTUAGINTA. Septuaginta itu yang dipakai oleh jemaat Kristus pada mula-mula. Pada tahun 98 M sekumpulan guru-guru agama Yahudi mengadakan pertemuan di Yamnia. Mereka menetapkan 3 kriteria penting mengenai sifat ALKITAB yang disebut tulisan suci. Pertama penulisannya harus sebelum tahun 400 SM. Kedua tulisan ditulis dalam bahasa Ibrani untuk Perjanjian Lama. Ketiga memuat sifat moral dan religius yang sangat baik dan patut. Dengan kriteria ini maka mereka hanya menerima 39 kitab, dan menolak 7 kitab lainnya. Ke 7 kitab yang ditolak itulah disebut “DEUTEROKANONIKA” atau “APOKRIPA”, terdiri dari kitab-kitab: Barukh, Tobit, 1 dan 2 Makabe, Yudit, Kebijaksanaan Salomo, Sirakh, kitab tambahan Ester, dan kitab tambahan Daniel. Sedang ke 39 kitab yang diterima itu yang sekarang sering dibaca umat Kristen. Dalam masa Reformasi yang dimotori Martin Luther secara tegas menyatakan bahwa Gereja Protestan hasil Reformasi menolak ke 7 kitab yang disebut “APOKRIPA” tersebut, namun Gereja Roma Katolik dalam Sidang Gereja di Trente tahun 1546 menyetujui daftar apokripa tersebut menjadi satu kanon tersendiri, sedang Gereja Ortodoks Timur dalam Sidang Sinode di Yerusalem tahun 1672 hanya menyetujui 4 saja dari 7 kitab tersebut (yang ditolak adalah kitab Barukh, 1 dan 2 Makabe).

Sejarah penerjemahan ALKITAB sudah mengalami kemajuan berarti.Tadi diatas abad ke 3 Sebelum Masehi diterbitkan Septuaginta, lalu pada abad ke 2 M muncul terjemahan ALKITAB dalam bahasa Siria, pada abad ke 3 M terbit lagi ALKITAB dalam bahasa Koptik (bahasa Mesir). Sekitar tahun 400 M muncul terjemahan ALKITAB yang baru, dikerjakan oleh Jerome Sancti Hieronimus yang dikenal sebagai VULGATA dalam bahasa Latin. Terjemahan inilah yang disetujui dan dipakai oleh Gereja Roma Katolik. Dalam masa Reformasi Martin Luther menerjemahkan ALKITAB ke dalam bahasa Jerman, mempengaruhi bahasa Jerman, dari Septuaginta.

  1. 3. SEJARAH HERMENEUTIK

Hermeneutik mengacu pada cerita kehebatan dewa Yunani bernama Hermes, yang hasil pikiran dan corat coretnya menjadi “HERMENEUS”. Hermes adalah juru bicara istana dari para dewa Yunani di Gunung Olimpus. Dia adalah juru bicara dewa tertinggi Zeus. Rasul Paulus ketika berada di Likaonia disangka merupakan penjelmaan dari dewa Hermes sedang rasul Barnabas yang berdiam diri disangka dewa Zeus (baca Kis.14;12). Dari etimologis, asal usul bahasa, kata “HERMENEUTIK” hampir semakna dengan kata “EKSAGEIN”, EKSEGESIS, yakni mengartikan, menafsirkan. Namun dalam TEOLOGI kedua istilah tersebut memiliki perbedaan makna. HERMENEUTIK adalah bagian ilmu teologi yang berhubungan dengan keperluan untuk menafsir salah satu teks dari ALKITAB, sedangkan EKSEGESIS atau EKSEGESE adalah teknik atau cara dalam ilmu teologi untuk menafsirkan dan mengartikan suatu teks atau nats.

Orang kristen pertama yang juga Bapa Gereja merumuskan tentang ilmu tafsir adalah ORIGENES (186-254 M) dalam karya bukunya “PERI ARKHON”. Kemudian sejarah ilmu tafsir berkembang secara umum dalam 2 tahap utama. Pertama tahap para pujangga gereja. Pada masa pujangga gereja ilmu tafsir berkembang menjadi 2 bentuk, yakni berkembang di lingkungan Aleksandria di Mesir. Hermeneutik yang berkembang di kota Aleksandria adalah sering disebut “EKSEGESE ALEGORIS”. Menurut EKSEGESE ALEGORIS terdapat 3 macam makna ALKITAB. Pertama ALKITAB memiliki makna harafiah atau makna kedagingan, kasat mata, tidak perlu ditafsirkan. Kedua ALKITAB mengandung makna moral, ada pesan moral di dalam kisah-kisah tertulis di ALKITAB yang menjadi tolok ukur, patokan, dan ukuran buat moral atau kelakuan orang Kristen. Ketiga ALKITAB juga memiliki makna rohani, yang dianggap makna paling utama, yang hanya dipahami dan diketahui oleh orang-orang yang memiliki pengalaman rohani tinggi atau orang-orang suci. Selain ilmu tafsir dari Aleksandria, juga muncul ilmu tafsir di Anthiokia namun tidak sehebat yang di Aleksandria bahkan tidak berkembang pesat, malah ilmu tafsir Anthiokia dipengaruhi perkembangan ilmu tafsir Aleksandria.


* Disampaikan penulis dalam kerangka pembekalan para calon penatua (angka calon sintua) di gereja HKBP Kuta Jaya, pada tanggal 4 April 2007.


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: